Luqman 1-10

[31:10] Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.

Dr Bucaille, dalam bukunya menyatakan sebagai berikut mengenai tata surya kita:

"Bumi dan planet2 berotasi mengelilingi matahari membangun sebuah dunia terorganisir dengan dimensi dimana, dalam skala kita, manusia, cukup kolosal. Bumi sendiri berjarak kasarnya 93 juta mil dari matahari."

Dr Bucaille, mungkin meletakkan beberapa data ilmiah mengenai tata surya kita untuk membuat bukunya menarik dan pintar. Walau begitu, tinjauan kritis dari ayat2 qur'an menunjukkan sebuah hal yang sangat berbeda. Mungkin adil untuk mengatakan bahwa saat Qur'an ditulis, dunia kristen, paling tidak, sadar mengenai bentuk bumi. Bumi datar, dibangun oleh pendeta dan biarawan gereja, seperti Cosmas Indicopleustes diberikan ke dalam pandangan sferik Ptolomeus. Dalam pandangan ini, akan cukup alami untuk menemukan sudut pandang sferik dari bumi dalam Qur'an. Faktanya, tidak satupun ayat dalam qur'an mendukung sudut pandang sferik dari bumi– belum lagi teori modern Copernicus mengenai heliosentrisme dll. Bagaimana kemudian bisa qur'an diperlakukan sebagai sebuah wahyu Tuhan? Saya benar2 bingung.

Kenyataannya, sebuah pencarian yang sulit dalam seluruh isi Qur'an tidak menunjukkan satupun ayat yang mendukung realitas ilmiah rotasi bumi. Menurut Allah, bumi murni diam tanpa gerakkan.
Dalam bahasa arab "ARD" berarti bumi dan "FALAK" adalah rotasi/gerakan. Adakah orang yang bisa menunjukkan ayat dari Qur'an yang memuat dua kata ini berurutan?

Menurut Qur'an bumi kita datar dan agar lebih konsisten dengan pandangan Qur'an gambar bumi datar harus lebih besar dan matahari dan bulan jauh lebih kecil. Karena menurut Qur'an, mereka adalah lampu2 yang menggantung dari langit2 di topang oleh tiang yang tidak terlihat. Allah juga menyatakan langit terbuat dari tujuh lapisan dan meletakkan bintang di lapisan terendah, yaitu, lebih rendah dari bulan:

Q. 37: 6
[6] Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang,

Q. 67: 5
[5] Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.

Tata surya Qur'anik juga memuat jin2 yang tak terlihat. Jin2 ini, menurut Qur'an dibuat dari api dan mereka memanjat di punggung satu sama lain dan mencapai langit untuk mencuri dengar pembicaraan dari "Majelis Malaikat". Mari kita baca ayat berikut dari Qur'an:

Q37.8
[8] setan-setan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru.

Q. 72: 8-9
[8] dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, [9] dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)

Namun bagian paling menarik adalah bahwa Allah percaya bahwa bintang jatuh dan meteor adalah panah api untuk menyerang para jin yang mencuri dengar. ini yang Qur'an katakan:

Q. 67: 5
[5] Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.

Alam semesta, seperti dipandang oleh Muhammad/Allah tak lain hanyalah dunia dongeng. Itu bukan yang Tuan. Bucaille, sambil menulis buku terkenalnya The Bible, the Qu'ran and Science tidak sadari tentang kisah2 tidak masuk akal seperti bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan,(67:5), atau sebagai atap yang terpelihara seperti ditulis dalam ayat 21: 32 dan ayat 41:12, dll.; walaupun begitu, ia dengan cerdas mencoba menjauhi topik tersebut dengan mengatakan "Semua pengamatan ini berada di luar kajian studi ini" untuk alasan yang jelas. Pengarang lalu mengatakan bahwa data ilmiah tidak tersedia untuk membahas subjek ini yang berada diluar pemahaman manusia namun lupa memberitahu data ilmiah mana yang memenuhinya saat Qur'an mengatakan pula bahea Matahari mesti terbit dari air yang berlumpur dan mesti memasuki air yang tergenang lumpur hitam seperti apa yang disaksikan zulkarnain (Q18:86, 18:90).

Terdapat pula tempat di langit untuk singgasana Allah (Q2:255, 13:2, 25:59, 32:4, 57:4, 40:15) yang sepertinya dilupakan Dr Bucaille. Singgasana itu, menurut hadist, berada di atas air (Sahih Bukhari Volume 4, Book 54, Number 414) dan matahari bersujud di depan singgasana dan meminta izin Allah untuk terbit esok hari (Sahih Bukhari Volume 4, Book 54, Number 421).

Dalam bukunya, Bucaille berulangkali mengklaim bahwa, "tidak ada dalam teks Qur'an yang bertentangan dengan apa yang kita ketahui saat ini," namun kutipan dari Qur'an dan hadist di atas mengenai kosmologi modern mengungkapkan kebenaran bahwa tidak ada kebenaran ilmiah di dalamnya. Walau usaha2 menyedihkan Bucaille dan beberapa apologis muslim untuk menafsirkan ulang dan menemukan makna esoterik dibalik ayat2 kabur ini, teksnya benar2 kontras dengan sains, logika dan akal sehat yang cukup menyadarkan kita bahwa qur'an dibuat tanpa adanya wahyu Tuhan.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License