Yunus 1-10

10: 3. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?

Kontradiksi dengan
41: 9-12

Baca Kontradiksi Numerik

10:5 Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Bila seorang pembaca mengamati ayat di atas ia akan menemukan bahwa tidak ada istilah "sumber cahaya" atau "pemantul" dalam ayat ini. ia mengatakan begini : matahari bersinar dan bulan bercahaya

Dari pengamatan harian masa kuno masyarakat tahu bahwa matahari memiliki cahaya yang kuat dan terang sementara bulan memiliki cahaya yang dingin dan lembut yang menyinari dan membantu di kegelapan malam. Dalam Bahasa indonesia kita memakai istilah "sinar matahari"Sunshine" " dan "cahaya bulan""Moonlight. Ini artinya orang Indonesia kuno/Inggris kuno juga menyadari bahwa matahari lebih bersinar/terang/panas daripada bulan begitupula Arab kuno dapat mengamati fenomena demikian. Faktanya, begitu sederhananya hal ini bahkan bagi balita. Disini saya kutip dua kata yang dipakai Qur'an:

(diya) sinar matahari

(noor) Cahaya bulan

Dr Bucaille, walaubegitu, dalam bukunya menyatakan dengan lantang:
Matahari adalah sinar(diya') dan bulan adalah cahaya (nur). Terjemahan ini akan tampak lebih benar daripada kedua kata dipertukarkan. Faktanya terdapat perbedaan kecil pada sebuah akar kata(dw') yang, menurut kamus bahasa arab/perancis resmi Kazimirski, berarti 'bersinar, terang' (contohnya seperti api). Pengarang yang sama mengatributkan substansi dalam pertanyaan arti dari 'cahaya'.

Penjelasan dari Dr Bucaille di atas mungkin benar. Walaubegitu, setiap orang rasional dapat melihat bahwa penjelasan demikian tidak dapat diberikan kepada klaim keajaiban apapun saat kita memandang konteks historis dri Arab kuno. Untuk pembaca yang tertarik pada bagian seterusnya dari ayat tersebut
dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).

Bagian ini sama sekali bukan keajaiban. Arab kuno memakai matahari dan bulan untuk mengukur tempat dan waktu. Bulan lunar dan tahun lunar cukup umum dipakai oleh masyarakat pastoral. menariknya, saat ini, sains telah begitu maju sehingga kita tidak perlu bulan lagi untuk mengukur waktu. Menariknya, pada perkembangan terbaru ini, Qur'an yang ajaib tidak dapat memberikan indikasi sedikitpun lebih maju.

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 License